Menurut Sains Begini Cara Terbaik Hilangkan Stres

Menurut Sains Begini Cara Terbaik Hilangkan Stres

Setiap orang pasti pernah mengalami stres, baik itu ringan hingga berat. Sering kali stres mengganggu aktivitas dan kehidupan kita sehari-hari.

Hal itulah yang membuat kita harus segera menyingkirkan stres tersebut. Tapi bagaimana car terbaik untuk menyingkirkan stres?

Sebuah penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Frontiers in Behavioral Neuroscience pada Jumat (23/03/2018) mengeksplorasi bagaimana efek stres mempengaruhi kinerja fokus dan produksi kortisol, hormon stres yang dilepaskan tubuh.

Para peneliti mengamati bagaimana tulisan ekspresif (menceritakan hal yang membuat stres) memberi pengaruh pada efek tersebut. Dengan kata lain, penelitian ini menunjukkan penulisan jurnal (buku harian) bisa meningkatkan kesehatan mental seseorang.

"Kami telah diajarkan selama bertahun-tahun yang berfokus pada hal positif bisa membawa kesuksesan," ungkap Bryne DiMenichi, salah satu peneliti yang terlibat dikutip dari Newsweek, Jumat (23/03/2018).

"Hasil kami menunjukkan bahwa berpikir kritis terhadap kegagalan masa lalu bisa benar-benar mengarah pada hasil yang lebih baik," imbuh kandidat doktor dalam bidang psikologi di Rutgers University-Newark itu.

Menurut DiMenichi, hal ini mungkin karena berpikir tentang apa yang salah dalam kegagalan merupakan kunci untuk mencapai kesuksesan ketika seseorang menghadapi tantangan baru.

Untuk mendapat temuan tersebut, DiMenichi dan koleganya merekrut 100 orang peserta berusia rata-rata 24 tahun. Selanjutnya para peserta dibagi menjadi dua kelompok.

Kelompok pertama diminta untuk menulis tentang plot sebuah film yang baru mereka tonton. Sedangkan kelompok dua diminta menuliskan tentang masa-masa sulit dalam hidup mereka yang berakhir pada kegagalan.

Para peneliti juga mengamati kadar korsitol para peserta. Hal ini dilakukan untuk memahami tingkat stres yang dialami para peserta.

Sebagai informasi, kadar kortisol para perserta di awal penelitian menunjukkan tingkat yang sama.

Namun, setelah menyelesaikan tugas masing-masing dan kembali diuji menggunakan prosedur umum yang disebut Uji Stres Percobaan Sosial kadar kortisol kedua kelompok tersebut berbeda. Kelompok kedua memiliki kadar kortisol lebih rendah daripada kelompok pertama.

Hal yang lebih mengejutkan lagi adalah tulisan-tulisan tentang kegagalan tidak mempengaruhi tingkat stres.

"Sebaliknya, kami menemukan bahwa, dalam hal persiapan untuk stres, menulis tentang kegagalan di masa lalu tidak serta merta membuat mereka kembali stres seperti saat awal terjadi tapi digantikan pesiapan fisiologis yang lebih baik untuk faktor stres baru, dan kemudian kinerja mereka menjadi lebih baik di bawah tekanan," kata DiMenichi.

Sayangnya, temuan ini tidak bisa langsung diterapkan pada dunia nyata. Itu karena banyak faktor lain yang ada dalam situasi stres.

Meski begitu, para peneliti berharap mendapatkan gambaran lebih baik tentang bagaimana menulis bisa membantu meningkatkan kinerja seseorang. Untuk itu, mereka berencana meneliti kembali bagaimana menuliskan kegagalan masa lalu mempengaruhi proses otak sebenarnya dalam menjalankan tugas baru.

Benarkah Gajah India di Foto ini Merokok?

Benarkah Gajah India di Foto ini Merokok?

Pernahkah Anda membayangkan seekor gajah yang merokok? Jika tidak, mungkin Anda harus menyaksikan tingkah seekor gajah di India.

Ya, seekor gajah di India tertangkap kamera "merokok". Tentu tidak dengan tembakau, melainkan potongan arang kayu.

Dalam video berdurasi 57 detik tersbeut, terlihat seekor gajah mengangkat sesuatu dari tenah di hutan dan memasukkan ke arah mulutnya. Sesaat setelah memasukkan benda tersebut, sang gajah menyemburkan asap seperti orang merokok.

Video yang diunggah oleh Wildlife Conservation Society (WCS) India itu meninggalkan tanda tanya, benarkah gajah tersebut "merokok"?

"Saya percaya gajah itu mungkin mencoba menelan arang kayu," ungkap Varun Goswami, ilmuwan WCS India dikutip dari Live Science, Jumat (23/03/2018).

"Tampaknya ia mengambil potongan (arang kayu) dari tanah), meniupkan asap yang menyertainya, dan memakan sisanya," sambung ahli biologi gajah tersebut.

Penampakan gajah "merokok" ini ditemukan Gosmawi dan timnya saat berada di Taman Nasional Nagarahole. Ketika itu, mereka sedang memeriksa kamera tersembunyi yang mereka pasang untuk mempelajari harimau India dan mangsanya.

Mereka juga menyebut bahwa gajah tersebut berdiri di dekat lokasi kebakaran hutan.

"Di India, Departemen Kehutanan membakar jalur kebakaran hutan untuk memadamkannya," ujar Vinay Kumar, asisten direktur WCS India.

"Dan upaya ini meninggalkan arang kayu di wilayah hutan," imbuhnya.

Memakan arang yang terbuat dari pemanasan kayu dalam kondisi rendah oksigen bukan hal istimewa yang dilakukan. Monyet colibus juga mengonsumsi arang semacam ini.

Dugaan sementara hal ini dilakukan mungkin untuk menghilangkan racun di beberapa makanan yang mereka makan.

Pada 1997, para ilmuwan melaporkan dalam International Jounal of Primatology, monyet colobus merah Zanzibar mungkin satu-satunya primata (non-manusia) yang sengaja mengunyah arang. Arang ini memungkinkan monyet tersebut menginsumsi almon India dan pohon mangga.

Kedua makanan tersebut punya kadar fenol cukup tinggi yang bisa menjadi racun dan mengganggu sistem pencernaan para monyet tersebut.

Pendapat sementara, gajah pemakan arang itu menangkap manfaat yang sama.

"Arang memiliki sifat pengikat racun yang dapat memberikan nilai obat," kata Goswami.

Dia juga menambahkan, arang juga bisa bertindak sebagai pencahar.