Eksplorasi Laut Dalam Jawa Oleh Indonesia-Singapura untuk Pertama

Eksplorasi Laut Dalam Jawa Oleh Indonesia-Singapura untuk Pertama

Indonesia dengan Singapura sudah berusia 50 tahun tepat September 2017 lalu. Kedua negara kini sedang bekerja sama untuk melakukan ekspedisi kelautan.

Kerja sama yang dilakukan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan National University (NUS) Singapura, akan mengeksploriasi keanekaragaman hayati di laut dalam selatan pulau Jawa.

Ekspedisi bertema Rising South Java Deep Sea Expedition, adalah penelitian pertama yang akan mengeksplorasi dunia bawah laut selatan Jawa pada kedalaman lebih dari 2.000 meter.

Sejumlah petinggi negara seperti Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir, Plt  Kepala LIPI Bambang SUbiyanto, Dubes RI untuk Singapura Ngurah Swajaya, Dubes Singapura untuk Indonesia Anil Kumar Nayar,  dan Direktur Asia Tenggara Kemenlu RI Denny Abdi, ikut meresmikan kerja sama ini di LIPI, Jakarta, Jumat (23/3/2018).

"Ekspedisi ini menggunakan kapal Baruna Jaya VIII milik LIPI selama 14 hari ke depan sejak hari ini. Kapal akan menyusuri 29 titik di selatan pulau Jawa, mulai dari selatan selat Sunda sampai selatan Cilacap, Jawa Tengah," ujar Duta Besar Indonesia untuk Singapura Ngurah Swajaya, dalam keterangan resmi.

30 peneliti dari Pusat Penelitian Oseanografi LIPI serta Tropical Marine Science Institute dan Natural History Museum of Lee Kong Chian, National University (NUS) of Singapore terlibat dalam ekspedisi tersebut.

Kegiatan ekspedisi sendiri akan dilakukan dalam dua tahap, yakni kegiatan di atas kapal untuk pengambilan sampel serta kompilasi data, dan studi atas sampel yand di dapat tersebut.

Para ahli memperkirakan keseluruhan penelitian ini akan memakan waktu sampai dua tahun.

Mereka menargetkan hasil penelitian sudah dapat dibagikan dan didiskusikan dalam bentuk lokakarya pada 2020.

Para peneliti berharap akan menemukan berbagai spesies laut yang belum pernah teridentifikasi sebelumnya. Sehingga nantinya dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan ilmu pengetahuan dan mempelajari berbagai jenis biota laut.

"Diharapkan hasil temuan ini dapat menyumbang manfaat untuk berbagai kegiatan ekonomi, termasuk kegiatan pencarian ikan di laut dalam, penambangan, dan kegiatan lainnya yang menunjang upaya pelestarian lingkungan dan pembangunan berkelanjutan," kata Swajaya.

Selain itu, kerjasama Ekspedisi ini juga diharapkan dapat mendorong dan meningkatkan kapasitas peneliti-peneliti muda Indonesia dan Singapura di bidang biota laut.

Untuk pertama kalinya, kerja sama ini  dilaksanakan hanya melibatkan peneliti dari dua negara ASEAN, tanpa melibatkan peneliti dari negara barat.

Kegiatan ini merupakan wujud konkrit dari kegiatan Indonesia dalam kerangka kerjasama IORA dan untuk merealisasikan visi Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia.

Manfaat TaiChi Bagi Penderita Fibromyalgia

Manfaat TaiChi Bagi Penderita Fibromyalgia

Seni bela diri Tai Chi sudah lama diyakini bermanfaat untuk kesehatan manusia. Baru-baru ini, para peneliti melalui studi yang dipublikasikan di jurnal BMJ menyarankan bagi penderita fibromyalgia untuk berlatih seni bela diri tersebut.

Menurut para peneliti gerakan Tai Chi yang meditatif dan berfokus pada pengaturan nafas, serta keseimbangan gerakan tubuh, bermanfaat bagi penderita penderita fibromyalgia.

Perlu diketahui, fibromyalgia adalah penyakit nyeri kronis pada tulang dan otot yang parah.

Dr Chenchen Wang, direktur Center for Complementary and Integrative Medicine di Pusat Kesehatan Tufts, melakuan penelitian terhadap 226 orang yang menderita fibromyalgia selama setahun.

Secara acak, Wang meminta peserta untuk melakukan senam aerobik yang direkomendasikan atau berlatih Tai Chi pada 12 hingga 24 minggu pertama.

Para peneliti kemudian mencatat gejala fisik dan efek psikologis, seperti intensitas rasa sakit yang dirasakan, kelelahan pada pagi hari, tingkat depresi, pengaruh pada pekerjaan mereka dan seberapa baik mereka tidur, yang dialami peserta pada minggu ke 12, 24 dan 52.

Hasilnya, penderita fibromyalgia yang berlatih Tai Chi merasakan lebih sedikit rasa nyeri daripada yang melakukan senam aerobik. Lalu apabila sudah lama berlatih Tai Chi, rasa nyeri akan semakin berkurang.

Selama penelitian, para peserta studi juga ditemukan mulai mengurangi obat anti nyeri yang selama ini mereka minum. Namun apakah hal tersebut disebabkan oleh senam Tai Chi, para peneliti tidak menjelaskannya ke dalam laporan mereka. 

"Kami menemukan bahwa Tai Chi lebih menyenangkan dan ada interaksi sosial. Mereka dapat berlatih di rumah sendiri dengan keluarga dan teman-teman mereka," kata Wang, dikutip dari Time, Kamis (22/3/2018).

Walaupun Wang sendiri tidak menjelaskan bagaimana Tai Chi bekerja mengurangi rasa nyeri, para dokter mempercayai bahwa aktivitas tubuh dapat melancarkan aliran darah ke otak dan meredakan gejala sakit akibat sendi dan otot yang pasif.

Melihat hasil ini, Wang pun menyarankan para dokter untuk merekomendasikan Tai Chi sebagai alternatif pengobatan pasien fibromyaglia.

Jika hasil penelitian ini sudah terkonfirmasi, Tai Chi mungkin akan bisa meningkatkan kualitas hidup pasien fibromyaglia.

Gerakan senam Tai Chi dapat Anda lihat dalam video di bawah ini.

PBB Jelaskan Asia Bakal Kehabisan Ikan pada 2048

PBB Jelaskan Asia Bakal Kehabisan Ikan pada 2048

Perubahan iklim dan pemanasan global telah lama diketahui mempengaruhi alam di berbagai belahan dunia. Bahkan, baru-baru ini Persatuan Banga-bangsa ( PBB) merilis laporan terbaru tentang "kehancuran dunia" ini.

Ada empat laporan penting PBB yang dipresentasikan pada pertemuan para ilmuwan di Medellin, Colombia, Jumat (23/03/2018) lalu. Salah satunya menyebutkan kehancuran dan kemunduran keanekaragaman hayati di dunia.

Hal itu diseut-sebut sudah sangat parah sehingga membahayakan ekonomi, mata pencaharian, ketahanan pangan, akses air minum, serta kualitas hidup masyarakat dunia.

Laporan-laporan tersebut merupakan hasil pengamatan selama 3 tahun yang melibatkan 550 ahli dari leih 100 negara. Para peneliti menilai keanekaragaman hayati dan ekosistem di empat wilayah, yaitu Amerika, Asia-Pasifik, Afrika, dan Eropa-Asia Tengah.

Menurut laporan tersebut, pada tahun-tahun mendatang, perubahan iklim hanya akan memberi tekanan lebih besar terhadap keanekaragaman hayati di dunia.

Laporan ini telah diamini oleh Platform Ilmu Pengetahuan Antarpemerintah tentang Layanan Keanekaragaman Hayati dan Ekosistem (IPBES).

Para peneliti menemukan bahwa di Amerika telah terjadi penurunan 50 persen air tawar terbarukan per orang sejak 1960-an. Di Eropa, 42 spesies hewan serta tumbuhan darat cenderung menurun dalam ukuran populas pada dekade terakhir.

Jika hal ini terus berlanjut, para ilmuwan memprediksi Amerika akan kehilangan 15 persen dari tenaman dan hewan pada 2050. Di lain pihak, wilayah Asia-Pasifik akan kehabisan stok ikan karena penangkapan ikan komersil pada 2048.

Tak hanya itu, Afrika bahkan diperkirakan kehilangan separuh spesies mamalia dan burung pada 2100 mendatang.

"Keanekaragaman hayati dan alam sangat berguna bagi manusia, banyak manusia, baik dalam akademis dan kehidupan sehari-hari kita," ungkap Robert Watson, ketia IPBES dikutip dari Newsweek, Jumat (23/03/2018).

"Tidak ada yang jauh lebih benar, mereka adalah pondasi dari makanan kita, air bersih, dan energi," imbuh Watson.

Watson menambahkan, keanekaragaman hayati merupakan jantung dari kehidupan, budaya, identitas, sekaligus kenikmatan hidup manusia.

"Kita harus bertindak untuk mengentikan (kepunahan) dan mengembalikan fungsi alam yang berkelanjutan, atau ini berisiko tidak hanya untuk masa depan, tapi kehidupan yang kita jalani saat ini," tutup Watson.