Ingin Bahagia, Nonton Musik Bisa Jadi Alternatif Bersenang-senang

Ingin Bahagia, Nonton Musik Bisa Jadi Alternatif Bersenang-senang

Kalau kamu termasuk orang yang rutin nonton konser musik, kamu beruntung. Selain melepas dahaga menyaksikan idola di atas panggung, kegiatan ini jika dilakukan rutin juga berdampak bagi kesehatan.

Bahkan, menurut studi, seperti dikutip dari New York Post, efeknya lebih baik daripada melakukan yoga. 

Kesimpulan studi ini didapat setelah para peneliti melakukan tes psikometri terhadap para peserta. Mereka dipasangi monitor detak jantung, kemudian diminta melakukan kegiatan secara terpisah.

Ada yang menonton konser Paloma Faith, sesi yoga atau mengajak anjing jalan-jalan.

Tes psikometri dilakukan sebelum dan sesudah kegiatan menemukan bahwa mereka yang menyaksikan konser Paloma Faith selama 20 menit memiliki tingkat "kesehatan" lebih tinggi daripada peserta lain.

Penelitian yang dilakukan oleh Patrick Fagan, ahli dalam ilmu perilaku dan dosen di Goldsmith's University di London, menunjukkan mood mereka yang menonton konser juga meningkat sebesar 21 persen.

Sebaliknya, para peserta yang mengambil sesi yoga selama 20 menit, kesehatan mereka hanya meningkat sekitar 10 persen.

Sementara mereka yang mengajak anjing berjalan-jalan, kebahagiaan mereka hanya mengalami kenaikan tujuh persen.

“Penelitian ini menunjukkan konser sangat berdampak pada perasaan sehat, bahagia dan wellbeing, di mana perlu dilakukan rutin setiap dua minggu,” kata Fagan yang bekerja dengan O2 dalam penelitian ini.

Studi ini dilakukan terhadap 60 orang dengan tes psikometri, yang dirancang secara khusus untuk menilai tingkat kesejahteraan mental atau stres, kebahagiaan dan bagaimana sikap mereka terhadap orang lain.

Penelitian juga menunjukkan orang  yang menyaksikan pertunjukan musik satu kali dalam dua minggu atau lebih lebih bahagia, puas dan produktif.

Sebuah jajak pendapat dari 2.000 orang dewasa yang dilakukan melalui OnePoll juga menemukan bahwa dua pertiga orang Inggris mengatakan menyaksikan konser musik membuat mereka merasa lebih bahagia daripada hanya mendengarkannya di rumah.

Dan artis yang paling mungkin untuk didengarkan ketika responden merasa bahagia adalah Ed Sheeran, diikuti oleh Phil Collins dan almarhum George Michael.

Empat dari 10 mengatakan bahwa mereka sangat menyukai atmosfer dari penonton konser musik dan hampir satu dari 10 menggambarkan pertunjukan sebagai “pengalaman spiritual.”

“Kita semua tahu betapa bagusnya menyaksikan band atau artis favorit konser, tetapi sekarang kita memiliki buktinya,” katanya.

Kanker Serviks Semakin Mudah di Cegah

Kanker Serviks Semakin Mudah di Cegah

Kanker leher rahim atau serviks masih menjadi momok bagi perempuan, termasuk perempuan Indonesia. Dari data setiap tahun ditemukan 528.000 kasus baru kanker servik, di mana 266 ribu kematian setiap tahun dan sepertiganya di Asia Tenggara.

Di Indonesia, kanker serviks merupakan pembunuh ke-2 perempuan di Indonesia. Salah satu problematik dari keganasan kanker serviks berkembang di Indonesia disebut karena kesadaran pencegahan penyakit belum maksimal. Kasus yang dialami mendiang aktris Julia Perez disebut sebagai fenomena gunung es.

"Karena banyak sekali yang masih belum mau ngomong," kata dr.Ferry Dharmawan MD, Obgyn, dalam acara peluncuran aplikasi Prosehat, di Jakarta, Selasa (27/3/2018).

Diakui setelah penyakit Jupe menyeruak, kesadaran untuk deteksi dini soal kanker serviks makin meningkat. Beberapa metode seperti Pap Smear, Infeksi Visual Asam Asetat (IVA) hingga tes DNA menjadi pilihan.

Hasilnya cukup positif. Kanker serviks turun peringkat ke posisi ke-2 pembunuh perempuan Indonesia, setelah kanker payudara.

Ferry menjelaskan 99,9 persen penyebab kanker serviks adalah virus Human Pavilloma Virus (HPV).  Virus ini, terutama tipe Onkogenik nomor 16 dan 18, disebut cukup ganas. Tak berhenti di serviks, HPV bisa menjalar ke organ tubuh lain, termasuk otak. 

Karena itu, pencegahan terbaik adalah melakukan vaksinasi HPV. Vaksin itu disebut cukup ampuh untuk mencegah kanker serviks.

Panggil dokter

Selama ini vaksinasi HPV dikenal dilakukan di rumah sakit atau klinik kesehatan tertentu, tapi saat ini kita bisa melakukannya di rumah.

Adalah aplikasi ProSehat yang membuat terobosan vaksinasi kanker serviks di rumah. Ide ini digawangi dr Bimantoro yang melihat pentingnya dunia kesehatan didukung teknologi mobile.

Pria ini sudah 12 tahun di dunia digital health, dan merasa perlu ada perubahan, karena selama ini hanya komunikasi satu arah.

"Kami lihat bahwa kesehatan harus dipermudah dan deliver yang membutuhkan," katanya.

Karena itu, dr Bimantoro melanjutkan, aplikasi yang digarap bersama temannya, Wiguno, melakukan terobosan dengan membuat vaksinasi ke rumah. 

Meskipun vaksinasi mendatangkan dokter langsung ke rumah, prosedur dan tata cara dilakukan sesuai standard. Para dokter disebut sudah dilatih untuk melakukan vaksin di rumah tanpa mengurangi kualitas dan detil seperti kebersihan dan suhu ruangan

"Produk vaksinnya pun resmi dan asli," katanya.

Tak hanya vaksinasi HPV, aplikasi yang bisa diunduh di situs www.prosehat.com, melalui ponsel berbasis Android dan iOS ini, juga menyediakan vaksinasi lain seperti vaksinasi meningitis, vaksinasi flu 3-strain, vaksinasi thypoid hingga imunisasi untuk anak. 

Saat ini layanan vaksinasi ke rumah baru mencakup Jakarta, Depok, Bekasi, Tangerang dan Serpong dengan didukung belasan dokter sebagai tenaga vaksinator.